Modernis.co, Jakarta – Rasanya miris dan menyedihkan ketika mengetahui bahwa penyebab gangguan belajar anak justru berasal dari keluarga mereka sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Dapat dikatakan bahwa lingkungan keluarga adalah sekolah alami pertama bagi anak. Keluargalah yang memberikan dasar-dasar kemampuan menjalani kehidupan, baik itu yang bersifat praktis, religiusitas, moralitas, dan intelektualitas.
Keluarga yang tidak memiliki persiapan parenting untuk anak justru menjadikan buah hati sebagai korban ketidaksiapan. Namun sayangnya hal ini kurang menjadi perhatian orang tua.
Banyak pasangan belum siap menjadi orang tua ketika mereka sepakat untuk menikah. Kasusnya banyak sekali dan beragam. Padahal idealnya dua orang yang menikah harus siap menjadi sosok suami-istri, orang tua, dan masyarakat.
Pembahasan kali ini berfokus pada kemampuan intelektualitas anak. Dampak dari kurangnya kemampuan intelektualitas disebabkan oleh gangguan belajar anak yang tidak terdeteksi atau diabaikan.
Penyebab anak mengalami gangguan belajar tidak berasal dari sekolah atau guru. Seringkali akar masalahnya justru berasal dari dalam rumah.
Berikut adalah lima penyebab gangguan belajar pada anak yang berasal dari keluarga.
1. Orang Tua Terlalu Sibuk dan Kurang Perhatian
Banyak orang tua merasa sudah sangat disibukkan oleh pekerjaan dan berbagai aktivitas sehingga mengabaikan anaknya. Keadaan miris ini membuat anak kehilangan sosok dan peran orang tua.
Seringkali orang tua hanya memiliki sedikit waktu berada di rumah. Bahkan tidak sempat untuk menemani anak belajar atau sekadar mendengarkan cerita mereka.
Kurangnya perhatian ini bisa membuat anak merasa tidak didukung. Mereka mungkin kesulitan berkonsentrasi karena merasa sendirian.
Lambat laun perasaan sendiri tanpa dukungan dan kasih sayang yang hangat dari orang tua akan menumpuk di benak anak. Kondisi ini pada akhirnya menurunkan kemampuan mereka dalam menyerap pelajaran.
Dalam banyak kasus, orang tua justru acuh dan cenderung mengabaikan capaian belajar anak. Hal ini membuat anak semakin tidak peduli dengan sampai sejauh mana kemampuan belajarnya.
2. Kondisi Emosional di Rumah yang Tidak Stabil
Hindari menunjukkan konflik keluarga di rumah ketika ada anak. Akan jauh lebih baik jika kita para orang tua menjaga keharmonisan rumah tangga. Bukannya kita menikah ketika sudah siap?

Persiapan menikah bukan hanya tentang sudah punya rumah, pekerjaan, tabungan, dan materi lainnya. Namun juga perlu dipersiapkan kepercayaan, kebijaksanaan, karakter, ilmu, mental, dan kelembutan hati.
Pernikahan yang minim persiapan akan berpotensi besar menciptakan konflik rumah tangga. Dan tentu saja anaklah yang akan menjadi korbannya.
Konflik tersebut bisa berupa pertengkaran orang tua yang terus-menerus, kata-kata toxic, atau budaya keluarga yang kurang baik, dan masih banyak lagi.
Rumah yang dipenuhi konflik akan mengganggu kondisi psikologis anak. Mereka lebih mudah mengalami stres, kecemasan, atau depresi. Emosi negatif ini membuat mereka sulit fokus di sekolah, karena pikiran mereka dipenuhi oleh masalah di rumah.
Kesejahteraan emosional yang terganggu secara langsung mempengaruhi kemampuan kognitif dan menimbulkan gangguan belajar serius pada anak.
3. Kurangnya Stimulasi Pendidikan di Rumah
Belajar tidak hanya terjadi di sekolah. Anak-anak yang memiliki kebiasaan baik seperti membaca buku, berdiskusi, atau bermain permainan edukatif di rumah.
Kebiasaan baik di atas tidak terjadi secepat kilat. Perlu peran aktif dan konsisten orang tua dalam menciptakan budaya keluarga yang menjunjung tinggi aktivitas belajar.
Keluarga yang tidak menyediakan stimulasi ini membuat anak kurang memiliki motivasi belajar. Tidak adanya kebiasaan belajar dalam keluarga bisa menjadi penghambat besar bagi perkembangan otak dan kemampuan belajar anak.
Seringkali budaya literasi yang diterapkan di sekolah atau pondok pesantren tidak berjalan lancar karena kurangnya dukungan serupa dari lingkungan rumah.
4. Harapan Orang Tua yang Terlalu Tinggi
Banyak orang tua memiliki harapan yang tidak realistis terhadap prestasi akademis anak. Mereka mungkin membandingkan anak dengan saudara atau teman-teman sebayanya.
Tekanan ini bisa membuat anak merasa cemas dan takut gagal. Alih-alih termotivasi, anak justru bisa kehilangan rasa percaya diri dan enggan mencoba hal baru karena takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tuanya.
Kondisi ini membuat mereka semakin sulit untuk belajar dan berkembang. Padahal anak-anak perlu dihargai, diapresiasi, dan didukung, serta arahan untuk langkah selanjutnya agar lebih baik.
Orang tua yang bijak tidak melihat capaian anak dari angka nilai. Orang tua yang cerdas akan memperhatikan anak dengan sungguh-sungguh dan tulus, serta menghargai proses yang dilalui buah hati tercinta.
5. Pola Asuh yang Tidak Konsisten
Pola asuh yang berubah-ubah, di mana orang tua kadang terlalu ketat dan di lain waktu terlalu longgar, bisa membuat anak bingung.
Misalnya, hari ini anak dilarang bermain game, tapi besoknya dibiarkan main sepanjang hari. Inkonsistensi ini membuat anak tidak memahami batasan dan aturan.
Mereka sulit mengembangkan disiplin diri, termasuk dalam hal belajar, karena tidak ada rutinitas yang jelas.
Itulah beberapa penyebab gangguan belajar anak yang seringkali berasal dari keluarga. Dengan menyadari ini, kita sebagai keluarga bisa mengambil langkah-langkah positif.
Memberikan dukungan emosional, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan menyesuaikan harapan dengan kemampuan anak adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya. (IF)




Kirim Tulisan Lewat Sini